oleh

Mengenal ‘Kampung Inggris Pare’ ?

Mengenal ‘Kampung Inggris Pare’ ? Mengenal ‘Kampung Inggris Pare’ ? Saat ini, siapa yang tidak mengenal Kampung Inggris, di Pare -sebuah kawasan kecil yang berdiri di Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Di kota kecil dan sederhana ini pelajar dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara berdatangan.

Mereka datang hampir dengan tujuan yang sama, memiliki kemampuan berbahasa asing utamanya, bahasa inggris. Di tempat ini, ratusan lembaga kursus berdiri. Bahkan kota ini pernah diteliti oleh antropolog dunia, Clifford Geerts. Bagaimana Pare bisa menjelma menjadi sebutan Kampung Inggris. Berikut wawancara Rakyatku.com dengan Muhammad Kalend Osen yang selama ini dikenal sebagai pendiri Kampung Inggris.
Bagaimana sejarah nama Kampung Inggris? Bisa diceritakan
Jadi yang memberi nama kampung inggris itu bukan saya, itu wartawan. Saya hanya bikin kursus biasa saja, kursus bahasa inggris. Tiba-tiba di tulis tahun 1995 di surat kabar Kompas. Dengan sebutan Kampung Inggris. Tapi waktu itu belum ada yang perhatikan. Dikira iseng saja. Setelah memasuki tahun 2000-an baru mencuat sebutan itu. Saya tidak pernah merasa menjadi tokoh dari berdirinya Kampung Inggris. Nggak ada, nggak ngerti malah saya.

Wartawan menulis tahun 1995 itu. Kronologisnya begini, ada wartawan yang waktu itu berada di Pare, entah berapa hari. Dia menulis tentang Kampung Inggris itu, karena waktu itu bertemu dengan tukang becak yang bisa ngomong Inggris dengan penumpangnya. Kemudian dia datang ke warung, ketemu juga dengan tukang warung yang bisa ngomong Inggris. Lah apakah dua orang itu sudah cukup untuk menamai Kampung Inggris.
Itu pertanyaannya, tiba-tiba ditulis.  Saya kira belum cukup syarat dengan hanya dua orang saja. Itupun sebenanrnya yang tukang becak itu, bukan tukang becak sungguhan. Itu murid saya yang main becak, minjem becak. Dikira tukang becak sungguhan, yang tukang warung itu memang hobinya bahasa inggris, almarhumah Ibu Sri Utami, orang singgahan sini dulu.
Memang senang bahasa inggris, sebelum jadi murid saya pun sudah bisa. Dulu banyak orang tua yang belajar di sini.
Kemudian tahun 2012 memperkuat lagi sebutan itu. Tapi dia punya alasan sendiri. Alasannya menamai Kampung Inggris karena saking banyaknya kursus-an. Sekarang ini sekitar 150 tempat kursus. Kalau dipikir, inikan kecamatan, kok bisa sebanyak itu. Ini suatu penonjolan yang luar bisa dibandingkan tempat lain, barangkali Jakarta sendiri mungkin tidak sampai. Surabaya juga paling 40. Ini ko kecamatan Pare 150-an .Nah, itu perlu diselidiki. Pertanyaannya kenapa? Mungkin, Pertama, karena mereka melihat suatu lahan untuk berkarya di sini. Dan Pare itu kecamatan yang sederhana, tidak terlalu ramai, tapi serba lengkap dan ekonominya stabil. Jadi itulah yang menunjang kebutuhan itu, sehingga menarik untuk berdiam diri di sini.
Apa benar Anda pendiri Kampung Inggris?
Oh iya, jadi bukan mendirikan Kampung Inggris, mendirikan kursus inggris BEC (Basic English Course). Dan saya mau meng-clear-kan diri saya bahwa saya tidak pernah terlibat, karena sebenarnya ini kebohongan. Saya tidak mau diikut bohongkan di situ, saya apa adanya. Saya hanya mengurusi lembaga kursus bukan mendirikan Kampung Inggris.

Kemarin di sana ada ditulisan, bahkan ada gambar saya, ditulis di situ ketua yayasan Kampung Inggris, kapan saya jadi ketua? Saya suruh ipar saya copot. Itu kan nanti saya tanggung jawab. Ada dari Jombang memasukkan saya ke majalah, sebagai ketua Kampung Inggris, tanpa ngomong dulu sama saya.
Pernah ada yang merasa kecewa ternyata sebutan Kampung Inggris itu tidak terbukti ?
Dulu tahun 1997, dua tahun setelah ditulisnya itu, ada orang yang merasa kecewa. Ini yang seringkali terjadi. Orang mendengar sebutan Kampung Inggris menduga semua orang di sini bisa bahasa inggris. Kan begitu dugaannya dan dugaan itu menurut saya pantas. Kan berani memberi nama Kampung Inggris.
Yah, kalau saya ditanya untuk mempertanggung jawabkan itu. Saya tidak sanggup dan saya tidak tanggugjawab. Sepertinya itu omong bohong. Sebutnya Kampung Inggris, tapi tidak ada orang ngomong Inggris. Nah, itu Prof Zaki, waktu itu Rektor UII Jogjakarta. Beliau sengaja 300 meter jalan kaki pengen dengar orang bahasa inggris, kecewa beliau. Itu kan yang bikin orang kecewa toh.
Tapi saya bilang, saya tidak memberi nama itu. Tapi aneh sebelah selatan itu dipasang nama “ Memasuki Kampung Inggris” nah, itu apa.
Tapi ada lagi yang lucu, mungkin kalau lama disini akan melihat ada anak memakai kaos Kampung Inggris atau tas. Menurut saya, apa tidak malu memakai tulisan itu. Kalau dianalisa orang yang berani memakai kaos bertuliskan Kampung Inggris itu apa bisa tanggung jawab, bisa ngomong bahasa inggris, itu pertanyaannya. Kalau tidak bisa sejauh mana kebanggannya itu, untuk apa ?apa yang dibanggakan? Jadi ingin tampil begitu saja

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed